Share

Cara Kerja Web Hosting serta Berbagai Jenisnya

  

Mungkin tidak banyak yang berpikir bagaimana caranya sebuah informasi bisa tampil di layar komputer. Setelah seseorang mengetikkan alamat web, tak lama muncullah gambar, video, teks, dan konten lainnya. Apakah hal ini terjadi begitu saja? Tentunya tidak. Ada proses di baliknya yang berlangsung dalam waktu cepat. Salah satu faktor pengaruhnya adalah bagaimana cara kerja web hosting dari situs tersebut.

Sudah tahu apa itu web hosting? Istilah ini sudah tidak asing lagi di kalangan pekerja IT atau orang yang gemar blogging. Tapi buat pemula, baca penjelasannya di bawah sekaligus pahami tentang cara kerja web hosting sebab ini sangat penting. Terlepas pekerjaannya bersinggungan dengan dunia IT atau tidak, perkembangan digital di masa kini menuntut setiap orang untuk tahu ilmu tentang internet.

Apa Itu Web Hosting?

Agar sebuah website bisa online di dunia maya dan dapat diakses dalam waktu 24 jam non-stop, maka dibutuhkan layanan web hosting. Hosting merupakan sebuah tempat penyimpanan segala hal, khususnya data dan file, yang berhubungan dengan website tersebut. Hosting ini bentuknya virtual space yang ada di dalam sebuah komputer disebut dengan “server” atau “komputer server”.

Komputer yang bekerja sebagai server tidak boleh mati atau mengalami gangguan sedikit pun. Jika tidak dijaga dengan baik, maka performa website akan terganggu, seperti website tidak bisa diakses hingga terkena serangan cyber berbahaya. Oleh sebab itu, komputer server ditempatkan pada ruangan khusus bernama “data center”.

Sebenarnya setiap komputer bisa menjadi server jika tidak ingin menggunakan jasa penyedia hosting. Namun komputer tersebut harus dilengkapi dengan spesifikasi tinggi serta teknologi mumpuni yang melengkapinya. Belum lagi tempat penyimpanannya harus diperhatikan betul dari segi suhu, keamanan, electricity backup, dan mitigasi bencana alamnya.

Konsep Kerja Web Hosting

Sebelum membicarakan cara kerja web hosting lebih jauh, satu hal yang perlu diingat adalah hosting berbeda dengan domain. Beberapa mungkin ada yang bingung antara keduanya. Hosting adalah server yang menyimpan seluruh file dan data pada sebuah website, sedangkan domain adalah alamat website tersebut.

Ketika seseorang memanfaatkan layanan hosting, maka ia “meminjam” space pada server provider tersebut sehingga website yang dimilikinya bisa bekerja optimal. Jika diilustrasikan, cara kerja web hosting mirip layaknya seseorang akan memiliki rumah. Orang tersebut harus membayar “kavling” miliknya setiap periode tertentu agar rumah tetap terbangun di atasnya.

Adapun bagaimana cara kerja web hosting dapat memunculkan informasi di layar komputer seseorang adalah, sebagai berikut:

     Seseorang mengetikkan alamat website yang ingin diaksesnya pada browser (baik menggunakan nama domain atau IP address).

     Browser akan menerjemahkan permintaan tersebut dan mengirimkan akses kepada server hosting melalui jaringan internet.

     Server akan memvalidasi akses dan memberikan permission kepada orang tadi untuk mendapatkan informasi-informasi yang diinginkan.

     File dan data dikirimkan melalui internet yang dimunculkan dalam bentuk teks, gambar, video, atau konten lainnya di layar browser orang tersebut.

Jenis-jenis Web Hosting

Hingga tahun 2019, pasar web hosting terus tumbuh seiring dengan perkembangan dunia internet serta pemanfaatnya yang kian beragam. Di tahun tersebut tercatat nilai market mencapai USD 56,7 milyar dan diprediksi meningkat sebesar 15,5% hingga tujuh tahun mendatang. Angka itu adalah nilai gabungan dari hosting shared, dedicated, VPS, dan colocation.

Melihat nilai pasar yang selalu naik, tandanya masyarakat kian masif menggunakan internet untuk berbagai keperluan. Misalnya, di bidang bisnis untuk kegiatan marketing, organisasi masyarakat untuk aktivitas kampanyenya, dan masih banyak lagi. Berbeda scoop kegiatannya akan berbeda pula kebutuhan hosting-nya. Ketahuilah jenis-jenis hosting berikut ini:

1. Shared Hosting

Sesuai dengan namanya, cara kerja web hosting ini adalah berbagi dengan user lainnya sebab sebuah provider akan membagi space untuk beberapa kliennya. Semua website yang tergabung dalam server tersebut di-online-kan dari satu resource, baik dari segi memori, power, dan lainnya. Oleh sebab itu, cost untuk hosting ini paling murah dibandingkan jenis hosting lainnya.

Meskipun demikian, shared hosting hingga tahun 2018 masih mendominasi pasar hosting dunia, yakni sebesar 31,7%. Penggunanya berasal dari berbagai kalangan, namun biasanya adalah new blogger, pebisnis pemula, pelaku usaha kecil menengah, dan website baru yang belum banyak traffic-nya.

2. VPS

Mirip seperti dedicated server hanya saja penggunanya memiliki akses yang lebih. Meski server yang digunakan masih bersama-sama user lainnya, pengguna VPS mendapat alokasi khusus dari provider, seperti space-nya, power, dan memory. Ini cocok digunakan saat traffic website mulai meningkat. Maka, segeralah pindah dari dedicated hosting ke VPS. Harganya masih terjangkau tapi di sisi lain mendapatkan root access sehingga bebas mengelola server sesuai keinginan.

3. Dedicated Hosting

User yang menggunakan dedicated hosting artinya memiliki server fisik sendiri, mulai dari komputer, space, hingga aksesnya. Server ini benar-benar didedikasikan untuk satu user sehingga pengelolanya harus memiliki pengetahuan yang baik tentang manajemen server.

Harganya tentu saja paling mahal dibandingkan jenis server lainnya. Tapi jangan heran kalau hosting jenis ini menduduki peringkat kedua di pasar global setelah shared hosting. Nilai pasarnya mencapai angka USD 5,72 miliar (27,9% dari market share). Salah satu faktornya adalah meningkatnya aktivitas masyarakat dalam berinternet sehingga mendorong traffic pada website di industri-industri tertentu.

4. Cloud

Cara kerja web hosting ini agak unik karena seseorang akan menggunakan sekelompok server sebagai resource-nya. File dan data akan diduplikasi ke beberapa server sehingga apabila terjadi traffic tinggi di salah satu server tidak akan mengganggu performa website lainnya. Server ini akan dengan sendirinya mencari “jalan lain” supaya website tidak mengalami downtime.

Dari segi biaya pun cukup terjangkau, maka dari itu jenis cloud mulai tren digunakan. Pengguna hanya membayar sesuai pemakaian saja meski memang cost-nya tidak bisa diprediksi setiap bulannya. Selain itu, akses root tidak selalu diberikan mengingat provider pun turut andil dalam pengelolaannya.

5. WordPress

Ini adalah bentuk lain dari shared hosting namun diperuntukkan khusus pemilik WordPress. Cara kerja web hosting ini pun mirip, yakni satu user berbagi dengan user lainnya sesama pengguna WordPress. Semua hal di dalam server dikonfigurasi secara khusus dan unik, seperti sistem keamanan, caching, dan sebagainya.

User WordPress yang menggunakan hosting ini akan lebih cepat performa website-nya. Bahkan provider biasanya menyediakan fitur-fitur tambahan, contohnya adalah tema yang pre-designed, drag and drop page builder, specified tool developer, dan masih banyak lagi.

Akhir Kata

Peran web hosting begitu penting dalam kinerja sebuah website. Ternyata tidak hanya jaringan internet stabil saja yang dibutuhkan, tetapi juga pemilihan hosting yang tepat supaya website bisa bekerja penuh. Sebagai pemula, cukup memanfaatkan fasilitas shared hosting dulu sambil mempelajari pengelolaan server serta memperhatikan tren traffic website-nya.

Memahami cara kerja web hosting pun tidak serumit yang dibayangkan. Penjelasan di atas cukup sebagai konsep dasar bagaimana sebuah hosting bekerja di balik sebuah website. Jika ingin mengetahui lebih mendalam, bisa terus menggali ilmu di dunia IT. Terlebih dunia internet terus berkembang dengan pesat dan seringnya di luar dugaan manusia.

Baca juga: Apa Itu Web Hosting, Pengertian, dan Jenisnya